Postingan

Menampilkan postingan dengan label Renungan

Pelajaran Hari Ini, Cintai Profesimu

Gambar
Pantai Boom, Banyuwangi, 18 Februari 2017 Pagi-pagi tadi, tepatnya pukul setengah enam pagi aku pergi ke pantai. Sebenarnya aku sudah sering mengunjungi pantai ini, tapi kali ini aku kemari untuk bertemu teman lama ku yang sedang pulang kampung. Saat duduk-duduk ditepi pantai, aku mengamati para nelayan yang tengah sibuk bekerja mencari ikan. Mereka sangat bersemangat menarik sebuah jaring yang berada ditengah laut. Aku mengamatinya, mereka berlari dari sisi kanan ke sisi kiri pantai dengan menarik tali jaring lalu menggulungnya (entah apa istilah aslinya, aku tidak tau). Mereka kurus, ketika menarik tali tadi terlihat otot-otot dilehernya. Aku yang daritadi menjadi seorang penonton, merasa kalau itu pasti melelahkan. Tapi raut wajah mereka tidak menunjukkan hal itu. Lalu aku berpikir, tentang orang dan pekerjaannya. Ketika aku di pantai, ya benar aku melihat nelayan sedang mencari ikan, jika aku digunung ijen nanti, pastinya aku akan melihat para penambang belerang yang membawa ...

Ngomongin nikah bosen juga

Halo, selamat malam! :) Kali ini, aku ingin menyampaikan opini-opini yang akhir-akhir ini muncul dibenakku. Opini ini muncul setelah seringnya aku ngomongin masalah pernikahan. Salahku juga sih, kenapa aku -kadang-kadang- ikut terjun ke perbincangan dengan topik tersebut. Jadi, beberapa waktu lalu sempet heboh masalah nikah muda nikah muda, jadi banyak tuh temen-temen yang baper pingin seperti itu juga dan mungkin aku salah satunya. Tapi aku mikir juga, aku kan masih kuliah mustahil keluargaku mengijinkanku menempuh jalan itu. Ku tepis jauh-jauh pikiran itu, lalu bagaimana dengan menikah diusia ideal? Lagi-lagi teman kuliahku pernah membuat sebuah poster mengenai usia ideal wanita menikah, sebenarnya aku tidak begitu tertarik dengan topiknya tapi karena posternya ada dimading kampusku aku tetap saja membacanya. Kalau tidak salah, usia ideal wanita menikah diposter tersebut umur 21-25 tahun. Waktu membaca poster tersebut, usia ku 20 tahun. Sempet terlintas sebuah target untuk menikah...

Aku lupa "sederhana"

Kemarin, mungkin aku lupa kalau bahagia itu sederhana. Aku lupa kalau dengan menjadi "sederhana" saja aku sudah bisa bahagia. Entah, mungkin karena kemarin-kemarin juga aku terlalu sering melihat ke atas, atau mungkin aku sedang mengikuti standar kebahagiaan orang-orang disekitarku? ehm. Ada yang salah? jelas ada. Aku sendiri yang salah, aku lupa dengan prinsipku, aku lupa sama prinsip hidup sederhanaku, dan lupa kalau merasa "cukup" itu menenangkan.. Berpenampilan sederhana, makan sederhana, berkerudung sederhana, berdandan sederhana, njajan sederhana. Ya, untuk beberapa hal kurasa cukup sampai disini saja kelupaanku. :) Saatnya kembali, menjadi diriku yang dulu gak serempong ini. Sebenarnya aku juga takut standar hidupku akan naik kalau balik ke perantauan, tapi hati manusia siapa yang tau...  Memasang standar kebahagiaan yang terlalu tinggi sama saja menyakiti diri sendiri Sederhana saja, asal jiwamu bahagia tak apa -d.i-