Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisi

Bunga yang tak pernah kau petik

Aku adalah salah satu bunga yang tumbuh di halaman rumahmu Dulu kau mengambilku dari toko bunga saat aku sedang mekar indah-indahnya Tak pernah terlewat suatu pagi kau tak menyapaku Merawatku, hingga aku tumbuh dengan baik Tapi terkadang kau membuatku bertanya-tanya Mengapa tak kau petik saja aku agar bisa kau bawa-bawa? Mengapa tak kau petik saja  aku agar kau bisa merasakan aromaku lebih lama? Kau suka, tapi tak pernah melakukannya Mengapa? Jember, 31 Agustus 2018 Dindrraa.

Bapak

Tubuhnya sudah tak setangguh dulu lagi Kulitnya telah memudar, ditambah keriput yang sudah nampak banyak diwajahnya Umurnya sudah lebih separuh abad Sesekali ia batuk, dan mengeluh pegal-pegal Aku benci kadang Benci karena sifat mengalahnya Benci karena sifat diamnya Benci karena putung rokok yang terus menerus ia hisap Tapi benciku pada sifat dan sikapnya, bukan pada sosoknya Terkadang inginku bedah isi hatinya agar aku bisa tau apa yang sebenarnya ada dalam pikirnya Karena tak sekalipun dia mengeluhkan apa yang tak ia suka Dia selalu memendamnya sendirian Tak pernah mengijinkanku mengetahui secuil rasa sakitnya Baktiku sangat belum sempurna padanya Akupun begitu tidak berani mengungkapkan kasih sayangku padanya Aku yang memanggilnya "Bapak"ini terlalu naif Padahal dulu sewaktu kecil ia lah yang menanamkan keberanian pada diriku Ia pula yang menanamkan kemandirian dalam diriku Ia tak pernah mengatakan bahwa ia sangat menyayangiku Tapi perilakunya mengisyar...

Harap apa?

Sebenarnya aku takut Aku takut berharapku terlalu jauh Hingga pada akhirnya aku sendiri yang luruh Hancur karena harapanku Tapi Tidak Aku sedang tidak berharap kan? Tolong jelaskan maksud sesak dalam dada yang daritadi tertahan Mengapa bisa ia terus berdetak Berdegup seolah ingin memberontakkan kemarahannya Tolong Tolong jelaskan maksud hati yang terus berdegup Seolah aku sedang meragukan diriku Hahaha Inginku tertawa saja Menanyakan balasan daripada sebuah harapan tidaklah ada gunanya Biarlah Biarlah aku disini penuh tanya tentang rasa yang ada dalam dada Biarlah aku disini berdiri tanpa mengharap apa-apa -d.i-

Cinta Abidzar

Dahulu kala, di sebuah negeri yang bernama Aslabana tinggalah sebuah pria bernama Abidzar. Dia sangat terkenal dengan kesederhanaan dan ketaatannya kepada Agamanya. Tidak heran, dia besar dilingkungan yang agamis, ayahnya adalah pemilik dan pengasuh pondok pesantren didaerahnya sedangkan ibunya adalah anak dari seorang Kyai. Suatu ketika, Abidzar disuruh ibunya pergi ke pasar untuk membeli kelapa. Sesampainya di pasar, matanya menatap sesuatu yang membuatnya tak bisa memalingkan pandangannya. Ya, apalagi? Seorang gadis, berkerudung panjang dan berpakaian sederhana sedang mengukir senyum manisnya. Siapa gerangankah dia? Abidzar mulai bertanya-tanya. Hati dan pikirannya masih terpaku pada wanita itu. Namun ia tersadar, berlama-lama memandang seseorang yang belum halal bukanlah sebuah kebaikan. Ia pun kembali melanjutkan perjalanannya di pasar. Suatu ketika, Abidzar memberanikan diri menyatakan maksud hatinya kepada Ayahnya. "Ayah, sebenarnya ada yang Abi ingin bicarakan kepada Ayah...

Dosa

ketika pikiranku sudah condong kepada indahnya pernak-pernik dunia, sungguh hati dan batinku sangat hampa dan kehilangan arah.  Entah sudah berapa kali ku melakukan dosa  ku panjatkan ampunan kepada Tuhanku karenanya Tapi aku pun sewaktu-waktu masih menikmatinya Balutan keindahan semu yang ia berikan menyisahkan kehampaan  membuat qalbu semakin kering, kerontang sesak jikalah bisa terwujud suatu keinginan  bantu aku Tuhan tuk tak melakukannya walau sekilas mata memandang jikalah bisa terwujud suatu keinginan  jaga aku Tuhan dari setan yang kapan saja membisikkan keburukan -d.i-

on point : Alhamdulillah

Alhamdulillah masih bisa merasakan hari ini, karena besok belum tentu dapat kutemui Alhamdulillah masih bisa kuhirup udara-udara segar pagi tadi, ahhh disisi kota sana masih banyak udara yg bercampur polusi Alhamdulillah masih bisa kuisi perut ku ini, karena dibagian bumi sebelah sana masih banyak penghuni yang tak bisa merasakan sesuap nasi Alhamdulillah masih bisa ku beli barang-barang yang menjadi prioritas diri, tapi tamak dan berbangga diri bukanlah solusi karena kesombongan itu membinasakan diri sendiri Alhamdulillah masih bisa kudengar lantunan ayat-ayat suci, karena disana ada yang ditakdirkan tuli Alhamdulillah, ya Allah Aku memiliki Engkau yang Maha Pengasih lagi Maha Pemberi yang senantiasa memberiku nikmat walau kadang aku masih menikmati maksiat Alhamdulillah, ya Allah Aku memiliki Engkau yang Maha Penyayang lagi Maha Menguasai segala isi hati yang menuntun lagi menguasai apa yang ada dalam dada ini

Untuk yang sedang berhenti berjuang

Dunia mu tidak kejam sayang Siapa lagi yang ingin kau salahkan ? Tuhanmu telah mengatur komposisi kegagalan, kejayaan, kesedihan dan ujian-ujian lain dengan seimbang Kemampuanmu pun telah diperhitungkan Lalu apa yang kau khawatirkan ? Hapus air matamu sayang Tak ada keabadian dalam kenestapaan Bahagiamu pun tak mungkin selalu datang Seimbang bukan ? Mungkin hari ini hanya masalah kakimu yang enggan melakukan perjalanan Atau tanganmu yang tak kunjung kau ulurkan Godaan memang selalu datang sayang Sekuat apakah akar pohon iman yang telah kau persiapkan ? Lihatlah duniamu dengan baik sayang Banyak orang terjun kejurang namun sedikit yang bisa temukan emas berlian Namun ternyata ada yang lebih menyedihkan Banyak pemilik singgasana permata yang tak kunjung bertemu tawa Lalu apa alasanmu untuk tak berbuat apa - apa? - 19.55 -

Puisi Apa?

Citraku hitam arang Ragaku karam, terkapar Asaku Asaku kemana ? Masih jelas ada Tertimbun baja yang bergelora didada Aku tak akan menyerah Walau badai tak kunjung reda Apakah ada tanda? Yang bisa bawaku sampai pada tujuan utama Hanya ilusi, nyatanya Kakiku harus tetap melangkah Walau keringat berubah darah Kan ku terjang aral melintang Tuk raih berlian yang kan kubawa pulang Kuhadiahkan tuk seorang wanita Yang pernah mengorbankan hidup dan matinya Bwi, 28 Maret 2017 8.28 (Sebelum balik perantauan)

Mimpi pengagummu

Sampai kapan kamu terus bermain disini? dipikiranku ini Aku yang sebenarnya tau ini hanya sebatas imajinasi Ilusi sang pemimpi Yang memimpikan aku, kamu menjadi kita Tapi, Sudah terlanjur jauh kurajut mimpi - mimpi Berpadu kasih dengan seorang pengabdi Yang raganya merantau jauh tak tersentuh Hingga tak ada kemungkinan tuk bertemu Kamu hanyalah sebatas tokoh utama dalam mimpi - mimpiku Yang kuambil dari realitas indahnya bangku putih abu-abu Dan aku sebatas pengagummu Yang ruang geraknya hanya sebatas pandanganku Andai bisa bertegur, khayalku

Batas - batas

Batas Kini ku berjumpa denganmu Dimana kini ada sekat - sekat yang tak bisa kutempuh Karena hadirmu Batas Hadirmu yang tiba - tiba kadang membuatku terhempas Membuat tangis air mataku semakin lepas Ah Kebas ! Aku ingin bebas Jelajahi dunia tanpa batas Melewati batas kemampuan yang terbatas Delusiku, bersama batas - batas

Bapak jangan sakit

Bapak, Aku tau bapak lelah Seharian disawah setelah terbiasa duduk dikantor bukan hal yang mudah Bapak, Aku tau bapak lelah Bekerja mencari uang untuk biaya kuliah dan rumah Bapak, Kini sudah kutemui keriput diwajahmu Kaki dan tanganmu pun sudah tak sekuat dulu Kini sering kutemui kau menggosok kan minyak urut dikakimu Bapak, Bapak jangan sakit Aku tidak akan menjadi anak yang nakal Aku tidak akan menaiki punggungmu lagi Aku tidak akan memukulimu ketika tak kau turuti keinginanku Aku tidak akan menyakitimu dengan kata - kata yang melukai hatimu Bapak jangan sakit Aku masih sangat membutuhkanmu 

Flashback...

"Wah harus opname ini" sentak dokter penyakit dalam setelah membaca hasil lab waktu itu. "Kalau rawat jalan bagaimana dok?" sahutku karena saat itu aku masih berat meninggalkan kuliahku. "Ya bisa, tapi ini sudah parah. Kalau saya menyarankan opname." Pikiranku kabur kemana - mana. Ini kali pertama aku sakit yang bisa dibilang menakutkan karena aku benar - benar tidak menyangka bahwa sakitku separah itu.  Dengan berbagai pertimbangan akhirnya aku memilih untuk opname. Ini kali pertama aku menginap dirumah sakit, tidak pernah aku bayangkan dan harapkan tidur disini tapi Allah memberiku kesempatan untuk merasakan "Bagaimana Rasanya." Pikiranku masih kalut, tangisanku tak kunjung berhenti. Dan, mengapa menangis?  Sesampainya dikamar tempatku dirawat, aku tetap menangis diranjang. Sebelum infus dipasang, ada wanita sepuh yang sedang merawat suaminya yang saat itu sedang sakit menghampiriku. Mungkin karena tangisanku, karena disana s...

o awan

o awan, ku ingin bercerita padamu tentang derita yang sedang kurasakan o awan, tolong dengarkan aku tak satupun ku memilih diantara dua pilihan yang melakukannya saja aku enggan o awan, lantunan puisiku ini kupersembahkan tuk dirimu saja yang mau mendengarkan aku disini, ku punya banyak teman yang siap katakan aku tak seperti apa yang mereka pikirkan

#u

Aku tenggelam bersama api - api perasaanku Terbakar dan hampir menjadi abu Citra ku gaduh Rinduku tak pernah luruh Kemana kah ku harus berlabuh ? Sendu selalu merayu Setelah kuingat kisah piluku Mungkinkah karena masih adanya dirimu ? Yang bisa menyulut api kerinduanku  Sewaktu - waktu

This Love

Aku berkata - kata dalam diamku Entah sudah berapa ribu kata yang tak pernah sanggup ku ucapkan Sampai akhirnya mereka menjadi bangkai yang tertahan Kamu terlalu jauh untuk mendengarkan apa yang ku ucapkan Bahkan jika aku mendekat sekalipun kau tetap tidak akan mendengar Aku mencintaimu Jauh dalam lubuk hatiku yang tak membiarkan mulutku untuk berkata Aku mencintaimu Walau kau selalu menjadi alasan kenapa air mataku terjatuh Tapi kamu terus menjauh Terlalu jauh untuk ku temukan Jika aku bisa kembali di hari itu saja Tak kubiarkan kau jatuh dalam dua pilihan Pergi atau tinggal Mengapa aku tak tahu bagaimana untuk memohon? Atau bagaimana menahanmu untuk tetap tinggal ? Ah lagi Aku tak menikmati waktu bersama Hingga kurasakan pahitnya berpisah Tak peduli suatu saat nanti Tolong temukan jalan untuk kembali

Tuhan, Maaf Diri Ini Masih Hina

Kala hati gundah ruah, bukan Dia yg jadi tempatku bercerita  Kala  nafsu meraung raung , bukannya menjauh malah mendekatinya Kala janji terucap , seringkali mengingkarinya  Tak jarang masih saja terlena tindak tanduk maksiat didepan mata  Harta terbuang sia sia, seolah tak ingatakan wajibnya berderma Kala panggilanNya tlah datang, seringkali pengabaian yang ada  Tuhan maaf, ternyata kami masih terlalu hina

Kepergianmu

Sudah kusebrangi luasnya lautan hanya untuk mencarimu Tlah ku lewati gersangnya padang pasir tuk temukan jejakmu Tapi tak sedetikpun ku cium keberadaanmu Tak sedetikpun ku lihat bayangan mu Kamu Dimana kamu ? Sosok yang kucari Sosok yang kudamba Yang pergi entah kemana Aku masih mencarimu Mencari arti kepergianmu Langit jawab aku Kau yang menyelimuti lingkaran katulistiwa ini kau tau dimana dia dia yang pergi meninggalkan sesak di dada

Sendu

kala itu aku masih dalam sendu tersenyum dengan cucuran air mata aku rapuh aku jenuh aku tertawa dalam kesalahan sampai tawaku mengisahkan tangis sampai kapan kau menghampiriku? kau membunuhku dian-diam kau tusuk aku dengan pedang kekecewaan murkamu sudah terlalu besar aku pergi, mencari pengobat luka ini