Postingan

Menampilkan postingan dengan label Keluarga

Hadiah untuk Nenek

(Krik – krik – krik.......) Suara jangkrik memecah keheningan malam itu. Ditambah dinginnya malam yang seolah olah ingin mematahkan tulang-tulang kakak-beradik yang sedang tidur didalam gubuk tua milik sang nenek. Namanya   Memet dan Mamat, Memet yang tertua sedangkan mamat 4 tahun lebih muda darinya. Mulai lahir mereka tinggal bersama neneknya karena orang tuanya pergi entah kemana. Karena keterbatasan biaya mereka putus sekolah dan hanya mendapat pendidikan tingkat dasar tapi dibalik semua kekurangan pasti ada kelebihan. Memet dan Mamat adalah anak yang Rajin bekerja, bekerja apa saja yang bisa mereka kerjakan. Suatu hari, saat mereka berjalan ditepi sawah ada tiba – tiba seseorang memanggilnya “Met, Mat kesini !” panggil pak karim “ya pak? Ada apa ?” jawab memet “kamu mau menjagakan kambing saya? Saya mau pulang sebentar” “mau pak dengan senang hati.” Jawab Memet Pak karim segera mempercayakan kambing – kambing nya kepada memet dan mamat Tidak lama kemudian pak k...

Bapak

Tubuhnya sudah tak setangguh dulu lagi Kulitnya telah memudar, ditambah keriput yang sudah nampak banyak diwajahnya Umurnya sudah lebih separuh abad Sesekali ia batuk, dan mengeluh pegal-pegal Aku benci kadang Benci karena sifat mengalahnya Benci karena sifat diamnya Benci karena putung rokok yang terus menerus ia hisap Tapi benciku pada sifat dan sikapnya, bukan pada sosoknya Terkadang inginku bedah isi hatinya agar aku bisa tau apa yang sebenarnya ada dalam pikirnya Karena tak sekalipun dia mengeluhkan apa yang tak ia suka Dia selalu memendamnya sendirian Tak pernah mengijinkanku mengetahui secuil rasa sakitnya Baktiku sangat belum sempurna padanya Akupun begitu tidak berani mengungkapkan kasih sayangku padanya Aku yang memanggilnya "Bapak"ini terlalu naif Padahal dulu sewaktu kecil ia lah yang menanamkan keberanian pada diriku Ia pula yang menanamkan kemandirian dalam diriku Ia tak pernah mengatakan bahwa ia sangat menyayangiku Tapi perilakunya mengisyar...

rindu "rumah"

Akhir-akhir ini aku merindukan ibu bapakku yang ada di rumah. Ya, aku adalah seorang gadis yang sedang merantau di kota sebelah. Sebenarnya hanya butuh waktu 3 jam untuk sampai ditempat ternyaman yang biasa disebut rumah itu, namun jadwal kereta  tidak memungkinkan untuk sehari saja pulang-pergi.  Seusai sholat maghrib tadi, aku menelepon bapak. Mendengar suara bapak di telepon adalah hal yang paling menyedihkan bagiku, oleh karena itu aku tidak begitu sering meneleponnya. Bapak adalah orang paling kuat dan tegar bagiku. Aku masih ingat betul, waktu itu dirumah sakit. Saat aku dianjurkan untuk dirawat, bapaklah yang mendekap kepalaku dan meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Aku tidak menemui air matanya terjatuh, tapi aku bisa merasakan bahwa hatinya saat itu menangis. Percakapan dalam telepon itu tidak banyak, hanya membicarakan makanan dan aku menanyakan keberadaan ibu. Namun ibuku ternyata tidak ada dirumah sehingga aku menyuruh bapak meneleponku nanti.  ...

Buah dari nasehat ibu

"Nggak ada orang yang nggak bisa, adanya orang yang gak mau berusaha." - Ibu. Pesan ibu itu selalu terngiang dibenakku setiap aku hampir menyerah dalam mengerjakan sesuatu. Dulu, ketika ibu menyuruhku mencuci seragam, seprei, menyetrika dan melakukan hal rumit lain, aku selalu bilang "gak bisa bu." Tapi ibu nggak pernah membiarkanku bodoh dalam hal yang memang seharusnya bisa dilakukan wanita pada umumnya.  "Nyetrika itu gak disuruh mikir kok, gak pakek rumus. Masak gitu aja gak bisa," kata ibu.  Alhasil apa? Akupun mulai menyetrika, walaupun hasilnya nggak pernah sehalus setrikaan ibu. =))))) Ibu selalu membandingkan pekerjaan rumah dengan rumus - rumus yang membuatku bingung disekolah. Entah jika aku menyapu kurang bersih, nyuci masih kotor, ibu selalu bilang bahwa semua itu gak butuh mikir, gak ada rumusnya.  Kalau dalam bidang akademik, ibu jarang sekali menasehatiku. Mungkin ibu sudah percaya bahwa aku bisa menjalankan kewajibanku. Alha...

Ibu, aku masih butuh doamu

Malam ini, tiba – tiba aku memikirkan kematian. Seberapa menakutkannya kata itu dipikiran kalian ? Apakah kalian takut?   Hmmm, sebenarnya kita tidak boleh takut mati karena setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Entah di masa apapun, saat sedang melakukan apapun kematian bisa datang jika sudah waktunya. Tapi untuk malam ini, aku hanya ingin satu ya Allah, panjangkanlah umur ibu dan bapakku karena aku masih belum bisa membahagiakan mereka. Sedih rasanya jika teringat betapa nakalnya diriku dulu. Di usiaku yang sudah melewati fase kepala satu, akhirnya aku bisa sedikit berpikir lebih dewasa. Dimana prioritas utamaku adalah membahagiakan kedua orang tuaku dengan menjadi sebaik baiknya seorang anak. Tidak seperti dulu yang hanya ingin bermain seolah kita harus bersenang – senang setiap saat dan menomor duakan keluarga. Lalu bagaimana sebaik – baiknya seorang anak itu ? Menurutku, dengan menjadi seorang anak yang berbakti kepada orang tua, tidak suka menyakiti hari mere...

Bapak jangan sakit

Bapak, Aku tau bapak lelah Seharian disawah setelah terbiasa duduk dikantor bukan hal yang mudah Bapak, Aku tau bapak lelah Bekerja mencari uang untuk biaya kuliah dan rumah Bapak, Kini sudah kutemui keriput diwajahmu Kaki dan tanganmu pun sudah tak sekuat dulu Kini sering kutemui kau menggosok kan minyak urut dikakimu Bapak, Bapak jangan sakit Aku tidak akan menjadi anak yang nakal Aku tidak akan menaiki punggungmu lagi Aku tidak akan memukulimu ketika tak kau turuti keinginanku Aku tidak akan menyakitimu dengan kata - kata yang melukai hatimu Bapak jangan sakit Aku masih sangat membutuhkanmu 

Bidadari ibu dan bapak.

          Malam itu ketiga bidadari bapak berkumpul bersama surga dunianya. Bagi ketiga bidadari bapak itu, ibu adalah surga mereka. Beda bidadari, beda pula perwatakannya. Bidadari pertama bernama Yenny Indrawati, bidadari kedua adalah aku, namaku Dwi Indrawati dan bidadari ketiga bernama Rizky Febiyanti. Mereka selalu meminta ibu menceritakan kisah – kisah lampau. Cara terbaik untuk memberi tahu masa kecil ketiga bidadarinya memang dengan berkisah.   “Bu, terimakasih sudah memberikan aku kaset – kaset Hadad Alwi dan Sulis semasa kecilku, berkat ibu sampai sekarang aku masih sering mendengarkannya lewat handphone ku.” Ucapku memecah keheningan ruangan itu. “Kau membuat ibu teringat akan masa kecilmu nak,” jawab ibu. “Kalau begitu, berceritalah tentang masa kecilku ibu.” Aku selalu bersikap seperti anak – anak didepan ibuku. Karena sampai kapanpun aku adalah seorang anak dari wanita yang memiliki surga ditelapak kakinya. “Dulu...