Postingan

Mengapa bisa sampai di PGSD?

Nama Saya Dwi Indrawati. Saya berasal dari Banyuwangi.   Saya dulu bersekolah di SMA Negeri 1 Glagah. Sekolah saya termasuk sekolah favorit di Banyuwangi karena lulusannya kebanyakan diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Saat kelas 3 SMA saya ingin menjadi seorang guru. Saat itu pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN), saya memilih program studi Pendidikan Matematika dan Pendidikan IPA di Universitas yang saya impikan waktu itu. Setelah beberapa bulan menunggu pengumuman, hasil yang saya dapatkan adalah kartu warna merah di layar laptop saya yang artinya saya masih gagal. Saya sangat sedih karena teman – teman saya banyak yang lolos di Universitas dan jurusan yang mereka impikan. Beberapa hari kemudian saya kembali bersemangat untuk belajar. Saya mengerjakan soal – soal latihan masuk perguruan tinggi untuk mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), jurusan dan universitas yang saya tuju masih sama yaitu Pendidikan Matematika dan Pendidi...

Bapak jangan sakit

Bapak, Aku tau bapak lelah Seharian disawah setelah terbiasa duduk dikantor bukan hal yang mudah Bapak, Aku tau bapak lelah Bekerja mencari uang untuk biaya kuliah dan rumah Bapak, Kini sudah kutemui keriput diwajahmu Kaki dan tanganmu pun sudah tak sekuat dulu Kini sering kutemui kau menggosok kan minyak urut dikakimu Bapak, Bapak jangan sakit Aku tidak akan menjadi anak yang nakal Aku tidak akan menaiki punggungmu lagi Aku tidak akan memukulimu ketika tak kau turuti keinginanku Aku tidak akan menyakitimu dengan kata - kata yang melukai hatimu Bapak jangan sakit Aku masih sangat membutuhkanmu 

Dimana Bahagia ?

Assalamuallaikum wr.wb Selamat pagi teman - teman, tulisan kali ini terinspirasi pagi tadi ketika aku menyusuri jalan-jalan perkampungan dikotaku. Akhir-akhir ini aku lebih senang berjalan kepasar pagi-pagi buta dan sesekali melewati jalan yang berbeda-beda setiap harinya. Ketika aku melewati rumah yang mewah, tersirat rasa "Wah, rumahnya bagus sekali." lalu beberapa tapak kemudian aku melewati rumah yang gubuknya sudah rusak dan bahkan tidak ada kamar mandi dan mengharuskan mereka berjalan kesungai setiap harinya. Lalu dijalan yang berbeda aku melewati rumah, yang dindingnya dari bambu, alasnya tanah namun tertata rapi, terdapat kamar mandi didalam rumah sehingga tidak harus kesungai untuk sekedar buang air kecil. Tersirat lagi dalam hati "Aku juga ingin memiliki rumah seperti ini."  Pertanyaan selanjutnya dalam pikiranku, apakah aku bahagia? apakah aku akan bahagia jika aku pemilik rumah bermodel modern yang alasnya marmer dengan pagar besi yang mengeli...

aku gak pantes mengeluh, aku bisa sembuh

Ya Allah, terimakasih telah memberiku sakit. Aku hanya ingin berprasangka baik. Aku masih ingat tiap detik langkahku dirumah sakit selalu saja banyak yang membuatku bersyukur. Aku diberi sakit tapi aku masih bisa berjalan, aku masih bisa melihat, aku masih bisa mendengar, aku masih bisa tersenyum ceria, dan masih banyak lagi yang masih bisa aku lakukan. Setiap kontrol, aku selalu bertemu seseorang dengan sakit yang berbeda - beda. Dan Alhamdulillah, akulah yang termuda. Banyak sekali pelajaran yang kudapat dari mereka. Satu bulan yang lalu, aku bertemu seorang tentara ia juga merupakan pasien. Aku banyak belajar darinya, walaupun beliau sakit lambung dan batu empedu tapi beliau sangat ceria. Beliau masih sering tersenyum dan bercanda bersama pasien dan pengunjung lain "harus bahagia."sepertinya itu adalah kunci kesembuhan. Lalu sekitar 2 minggu yang lalu aku bertemu dengan seorang wanita lansia yang juga sedang menunggu antrian di apotek rawat jalan. Beliau memberi nasehat...

Diam saja...

Entah hari ini rasanya kesel, sedih, marah. Tapi saya tidak bisa melampiaskan hal - hal tersebut dengan berkata kasar walaupun ingin sekali aku keluarkan jurus kata - kata kasar tersebut. Entah mengapa, eman. Mulutku terlalu kasihan kalau disuruh berbicara kasar. Yasudah sabar saja. Entah sejak kapan aku lebih memilih diam daripada melampiaskan amarah dengan marah - marah. Walaupun kadang sesekali khilaf. Tapi...  ah selalu saja pembelaan. Seolah akulah yang paling benar padahal akulah yang paling berdosa. Entah berapa anak yang merasa tersakiti karena marahku? berapa anak yang merasa tersakiti karena perkataanku? berapa anak yang terdzalimi oleh sikapku? Teman maafkan aku karena kesalahanku. Dan mungkin kini aku sudah berubah, menurut sudut pandangku tapi entah menurut sudut pandangmu.  Sebait puisi ini kubuat untuk diriku dan orang - orang yang lebih memilih diam sebagai pelampiasan terdalamnya. Sudahlah diam saja, Biarkan diammu yang menjawab entah itu melamban...

Flashback...

"Wah harus opname ini" sentak dokter penyakit dalam setelah membaca hasil lab waktu itu. "Kalau rawat jalan bagaimana dok?" sahutku karena saat itu aku masih berat meninggalkan kuliahku. "Ya bisa, tapi ini sudah parah. Kalau saya menyarankan opname." Pikiranku kabur kemana - mana. Ini kali pertama aku sakit yang bisa dibilang menakutkan karena aku benar - benar tidak menyangka bahwa sakitku separah itu.  Dengan berbagai pertimbangan akhirnya aku memilih untuk opname. Ini kali pertama aku menginap dirumah sakit, tidak pernah aku bayangkan dan harapkan tidur disini tapi Allah memberiku kesempatan untuk merasakan "Bagaimana Rasanya." Pikiranku masih kalut, tangisanku tak kunjung berhenti. Dan, mengapa menangis?  Sesampainya dikamar tempatku dirawat, aku tetap menangis diranjang. Sebelum infus dipasang, ada wanita sepuh yang sedang merawat suaminya yang saat itu sedang sakit menghampiriku. Mungkin karena tangisanku, karena disana s...

Kawan

Gambar
Kawan Suatu hari nanti kita akan jalan - jalan lagi laut, gunung, bukit dan hutan kita lalui Kawan Suatu hari nanti kita akan berkumpul lagi Bercanda bersama sampai lupa dengan masalah yang menjulang tinggi Kawan Suatu hari nanti kita akan bersama - sama lagi Di bulan Ramadhan bersama mereka yang biasa kita temui Kawan Tetaplah seperti ini Dulu, sekarang, sampai nanti